Tuesday, March 29, 2011

Bibik dan Telefon

Bibik dan Telefon

Telefon pertama
Penelefon (X) : Helloooo…. Apakah ini kediaman En Harun Salim Bachik..??
Bibik (Y) : Maaf Salah nombor..ini kediaman keluarga Tuan Syed Mahmud…

Telefon ke -2
Penelefon (X) : Helloooo……Apakah ini kediaman En Harun Salim Bachik..??
Bibik (Y) : Maaf, salah dail ni, encik..!! ini kediaman keluarga Tuan Syed Mahmud. (jawabnya kesal)

Telefon ke -3
Penelefon (X) : Helloooo….
Bibik (Y) : Eeeh..Lagi2 kamu!!.. Awas ya!! Walau saya cuma pembantu, tapi saya bisa laporin kamu ke polisi..!! (marah sangat dah ni!)
Penelefon (X) : Apakah ini kediaman keluarga Tuan Syed Mahmud..??
Bibik (Y) : Aduuuh.. maaf2 yaaa…, tadi soalnya ada beberapa kali salah sambung. Mau cari siapa tuan.??
Penelefon (X) : Harun Salim Bachik….
Bibik (Y) : ??!!@#@$!! (sambil usap2 dada)

Telefon ke -4
Penelefon (X) : Helloooo…..
Bibik (Y) : Kurang ajaaar..!!! Kamu punya nyawanya berapa hah!!!
Penelefon (X) : Saya Syed Mahmud…..
Bibik (Y) : Aduh..!!! Maaf tuan! sorry sekali, tadi ada orang gila telpon! ada perintah apa tuan.??
Penelefon (X) : Segera panggil En Harun Salim Bachik..!!
Bibik (Y) : Hah..!…. (pengsan)

Selepas 10 minit kemudian setelah tersedar dari pengsan,

Telefon ke -5
Penelefon (Z) : Hallooooo….. (suara berbeza berbanding panggilan2 terdahulu)
Bibik (Y) : (Oh ini suaranya lain…). Mau cari siapa tuan..??
Penelefon (Z) : Ini kediaman keluarga Tuan Syed Mahmud??
Bibik (Y) : Iya betul….
Penelefon (Z) : Saya Harun Salim Bachik… , tadi ada orang cari saya???
Bibik (Y) : ??@#$%^??… (terkejang!)

Friday, March 25, 2011

Kesedihan di tinggal pergi seorang nenek

Saat itu aku duduk dibangku TK. Aku sudah mengalami hal yang paling berat dalam hidupku. Aku saat itu masih berumur 5 tahun, dan kejadian ini aku alami 8 tahun yang lalu.

Saat itu aku sedang menonton TV sedangkan orang tuaku sedang berada di teras rumah. Tiba-tiba telefon rumahku berdering. Abahku lalu mengangkat telefon itu. Ternyata telefon itu dari pihak Rumah Sakit, dimana nenek ku dirawat. Aku yang masih kecil tak mengerti sama sekali apa yang terjadi. Namun aku disuruh ibuku untuk dirumah budhe ku sampai malam nanti. Kulihat wajah kedua orang tuaku sangat sedih. Aku juga masih bingung apa kah yang sebenarnya terjadi. Aku turuti saja semua yang disuruh ibuku. Aku lalu diantar oleh ibu kerumah budhe yang tak jauh dari rumah aku.

Dirumah budhe aku bermain bersama saudara aku. Saat hari mulai siang, mereka semua tidur kecuali aku. Aku tak bias tidur karena masih teringat oleh semua kejadian itu. Saat aku hendak makan ada sebuah pengumuman dari masjid bahwa nenek ku sudah meninggal. Aku hanya bisa meneteskan air mata, yang terus bercucuran mengenai pipiku.

Menjelang isya’ aku diantar pulang oleh budhe ku karena aku sudah kangen sama orang tua ku. Sampai disana, banyak keluargaku yang menangis. Aku yang masih kecil, juga rindu sekali sama nenek ku ikut menangis.

Dalam batinku, aku menangis dan terus menangis. Sambil meratapi wajah semua orang dirumahku.

. Aku yang masih menangis, lalu aku hentikan tangisan ku itu. Karena kita hanya bisa bersabar saja. Tiada lagi canda tawa nenek ku. Dulu aku biasanya bermain bersama beliau, mas yan, dan mbak ela. Namun waktu terus berjalan memang bumi telah berputar.

Aku tak ingin ini semua kalian alami secepatnya. Aku tahu bahwa ini semua akan terjadi.

Lumbung Padi Peninggalan Nenek



Alkisah, hidup lah seorang anak yang bernama Bima. Ia adalah anak yatim piatu. Ia sekarang di asuh oleh neneknya sendiri. karena biaya yang tak memadai, bima memutuskan untuk tidak bersekolah dan hanya mencari uang untuk hidupnya bersama neneknya sehari-hari.
Suatu hari, Bima diajak nenek nya ke sawah neneknya. Walaupun Bima masih kecil, Bima tetap berkeras hati untuk membantu neneknya di sawah. mereka bekerja terus tanpa mengenal waktu. saat matahari sudah berada di atas kepala Bima dan neneknya istirahat di sebuah lumbung padi. Bima, yang masih kecil mengira yang ia singgahi ialah sebuah gubuk. akhirnya ia pun tanya pada neneknya "Nek, ini gubuk ya? kok luas?" tanya Bima pada neneknya. "uhuk-uhuk, ini itu sebuah lumbung padi cu" (sambil terbatuk-batuk menjawabnya). "Lumbung padi, apakah itu?" tanya Bima yang tak mengerti. "Lumbung padi itu suatu tempat yang digunakan untuk menyimpan padi, cu"jawab nenek. Hari mulai sore, Bima dan neneknya bergegas untuk pulang kerumah.
Semakin hari, semakin besar pula Bima. Kini Bima, sudah berumur 19 tahun. Ia sekarang sayub rukun dengan warga sekitar, membantu sesama, terutama pada sang nenek kini yang merawat sawah nenek ialah Bima sendirian. Sang nenek tidak bisa merawat sawah tersebut karena sedang sakit.
Beberapa minggu kemudian, setelah Bima pulang dari sawahnya ia menghampiri neneknya. "Nek, sawah nenek sudah mulai bisa dipanen. Boleh kah Bima minta pertolongan warga sekitar untuk membantu Bima?" Pintah Bima pada sang nenek. "uhuk-uhuk, boleh cu, asalkan kamu mintanya dengan baik, tulus, dan ingat sopan" jawab sang nenek pada Bima. Saat Bima bergegas keluar, Bima dipanggil oleh neneknya. "Bima, cucuku kemarilah nak"panggil sang nenek. Bima langsung menghampiri sang nenek. "Iya nek, ada apa?" tanya Bima. "Cu, kalau nenek sudah tak ada sawah, rumah ini, sekaligus lumbung padi untuk mu, ya!" jawab sang nenek sambil memegang erat tangan Bima. "Terimakasih, nek. Tapi, nenek jangan berfikiran seperti itu" jawab Bima sambil tak kuasa menahan tangisnya. "Cepat kau urusi dulu padinya" pintah nenek pada Bima. sambil melangkah keluar dengan hati yang tergelisah, akan firasat buruk itu.
Sepulang, dari urusan panennya ia meratapi wajah nenek yang sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Bima kini hidup sebatang kara, hanya rumah, sawah, dan lumbung padi warisan nenek lah yang ia punya.