Friday, March 25, 2011

Lumbung Padi Peninggalan Nenek



Alkisah, hidup lah seorang anak yang bernama Bima. Ia adalah anak yatim piatu. Ia sekarang di asuh oleh neneknya sendiri. karena biaya yang tak memadai, bima memutuskan untuk tidak bersekolah dan hanya mencari uang untuk hidupnya bersama neneknya sehari-hari.
Suatu hari, Bima diajak nenek nya ke sawah neneknya. Walaupun Bima masih kecil, Bima tetap berkeras hati untuk membantu neneknya di sawah. mereka bekerja terus tanpa mengenal waktu. saat matahari sudah berada di atas kepala Bima dan neneknya istirahat di sebuah lumbung padi. Bima, yang masih kecil mengira yang ia singgahi ialah sebuah gubuk. akhirnya ia pun tanya pada neneknya "Nek, ini gubuk ya? kok luas?" tanya Bima pada neneknya. "uhuk-uhuk, ini itu sebuah lumbung padi cu" (sambil terbatuk-batuk menjawabnya). "Lumbung padi, apakah itu?" tanya Bima yang tak mengerti. "Lumbung padi itu suatu tempat yang digunakan untuk menyimpan padi, cu"jawab nenek. Hari mulai sore, Bima dan neneknya bergegas untuk pulang kerumah.
Semakin hari, semakin besar pula Bima. Kini Bima, sudah berumur 19 tahun. Ia sekarang sayub rukun dengan warga sekitar, membantu sesama, terutama pada sang nenek kini yang merawat sawah nenek ialah Bima sendirian. Sang nenek tidak bisa merawat sawah tersebut karena sedang sakit.
Beberapa minggu kemudian, setelah Bima pulang dari sawahnya ia menghampiri neneknya. "Nek, sawah nenek sudah mulai bisa dipanen. Boleh kah Bima minta pertolongan warga sekitar untuk membantu Bima?" Pintah Bima pada sang nenek. "uhuk-uhuk, boleh cu, asalkan kamu mintanya dengan baik, tulus, dan ingat sopan" jawab sang nenek pada Bima. Saat Bima bergegas keluar, Bima dipanggil oleh neneknya. "Bima, cucuku kemarilah nak"panggil sang nenek. Bima langsung menghampiri sang nenek. "Iya nek, ada apa?" tanya Bima. "Cu, kalau nenek sudah tak ada sawah, rumah ini, sekaligus lumbung padi untuk mu, ya!" jawab sang nenek sambil memegang erat tangan Bima. "Terimakasih, nek. Tapi, nenek jangan berfikiran seperti itu" jawab Bima sambil tak kuasa menahan tangisnya. "Cepat kau urusi dulu padinya" pintah nenek pada Bima. sambil melangkah keluar dengan hati yang tergelisah, akan firasat buruk itu.
Sepulang, dari urusan panennya ia meratapi wajah nenek yang sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Bima kini hidup sebatang kara, hanya rumah, sawah, dan lumbung padi warisan nenek lah yang ia punya.

No comments:

Post a Comment